CERPEN POHON KERAMAT
POHON KERAMAT
Ada sebatang pohon
yang dianggap keramat di dusunku. Kami menamainya sebagai pohon pendengar.
Hampir setiap hari
ada orang yang datang kepadanya. Pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari.
Ada juga di jam-jam subuh ketika kebanyakan orang terlelap.
Karena terlalu
banyak warga dusun yang datang, maka kunjungan ke pohon pendengar harus
berdasar izin dari kepala dusun. Dia yang mengatur pertemuan antara warga
dengan pohon keramat.
Namun seiring
banyaknya orang yang datang, kepala dusun memutuskan untuk menunjuk satu orang
untuk mengurusnya.
Pemilihannya tidak
asal. Orang itu harus berasal dari garis keturunan dukun. Orang pintar.
“Apa nenek pernah ke
sana? Ke pohon keramat?” tanyaku sembari memetiki daun kangkung yang akan
disantap saat makan siang nanti.
Nenek tersenyum,
membuat keriput di wajahnya makin kentara. “Untuk apa?”
“Karena manusia
tidak dapat dipercaya, bukan tempat menyimpan rahasia. Pohon itu tidak akan
menceritakan rahasiamu pada siapapun. Aman,” jawabku.
“Benarkah?” timpalnya.
Begitu saja. Nenek
tidak pernah menjelaskan alasan penolakannya untuk datang kepada pohon keramat.
Setahuku, juga
setahu orang-orang, Nenek adalah salah satu dari kelompok kecil yang tidak
pernah muncul, mendatangkan dirinya ke hadapan pohon keramat.
Seolah nenek dan
golongannya tidak setuju pohon tersebut keramat. Bahwa pohon tersebut tidak ada
bedanya dengan pohon-pohon lain.
Beberapa desas-desus
menyatakan, nenek pergi ke pohon lain. Ia sengaja tidak menceritakannya karena
takut orang-orang mengetahui letak pohonnya sehingga dia tidak dapat
mengunjungi pohon keramatnya kapan pun diinginkan.
Beberapa menyatakan
pikiran nenek agak terganggu. Karena sudah sewajarnya warga dusun pergi ke
pohon keramat.
Penolakan pohon
keramat nampaknya tidak begitu saja diterima oleh warga dusun. Mereka memang
tidak suka apa bila ada orang yang tidak sependapat dengan kebenaran mayoritas.
Salah satu hal yang
membuat nenek tetap aman adalah usia. Seandainya nenek masih muda, pasti beliau
sudah dihakimi orang-orang desa, termasuk kepala dusun.
“Melamun saja!”
tegur nenek.
“Aku tidak melamun.
Aku memetik daun kangkung,” sergahku, malu. Kulanjutkan proses memetiki daun
kangkung.
Nenek memandangiku
dari balik kacamata yang digunakannya. Seolah-olah memerhatikan apakah aku
memetik daun kangkung dengan benar.
Tapi aku tahu bukan
itu. Ada alasan lain. Ia ingin mengajakku bicara.
“Apa?” celetukku
karena agak jengah dipelototi seperti itu.
“Apa kau akan pergi
ke pohon keramat?” tanyanya.
Wah! Topik yang
tidak kusangka akan muncul dari bibirnya. Biasanya nenek hanya memberikan
jawaban sekenanya, ambigu, ngambang. Tapi hari ini dia yang menanyaiku.
“Aku belum cukup
umur,” dengusku. Hal itu harusnya sudah jelas. Mereka yang pergi ke pohon
keramat minimal berumur dua puluh lima. Sementara aku masih belasan.
“Kuharap mereka
mengubah peraturan mengenai umur. Anak muda juga punya permasalahan, tidak
hanya orang tua,” sambungku.
“Benar!” sahut nenek
sembari mengangguk-angguk. “Semua manusia memiliki permasalahan sesuai dengan
level mereka.”
“Jadi yang nenek
maksud, kami, anak muda levelnya masih rendah sehingga tidak perlu datang ke
pohon keramat?” tuntutku, tidak setuju.
“Bukan hanya anak
muda, orang tua sepertiku yang sudah hampir mati ini juga tidak perlu ke sana,”
tegas nenek tajam.
Aku balik menatap
nenek. “Mungkin karena nenek tidak memiliki rahasia untuk....”
“Oh! Aku jelas
memiliki rahasia. Semua manusia memiiki rahasia. Hanya saja aku tidak perlu
membagikannya kepada pohon yang dipuja-puja itu,” potong nenek.
Aku diam. Mencoba
menjejalkan penjelasan nenek. Tapi cara pikirku mulai mirip orang-orang yang
suka menggunjingkan nenek.
“Karena nenek punya
pohon keramat lain yang tidak dipuja orang-orang,” konklusiku. Atau lebih
tepatnya konklusi warga dusun.
Nenek menggeleng
mantap.
“Kenapa harus
menceritakan rahasiamu kepada sebatang pohon? Dia bahkan tidak akan memberimu
solusi,” katanya.
“Karena pohon tidak
akan menceritakan rahasiamu pada siapapun,” jawabku, cepat. “Karena rahasia
terlalu menyesakkan untuk disimpan sendiri.”
“Mengapa kamu yakin
rahasiamu tidak terbongkar gara-gara pohon?”
“Karena dia tidak
punya mulut. Dia bukan manusia. Pohon tidak dapat bicara!” ujarku, setengah
membentak. Nenek aneh sekali mempertanyakan hal yang sudah jelas begitu.
Membuat amarahku meletup saja.
“Apa kau yakin,
tidak akan ada yang mendengarkan rahasiamu kecuali pohon itu?” lanjut nenek,
mengacuhkan amarah cucunya yang gampang tersulut.
Aku membuka mulut,
berusaha mengatakan sesuatu. Keraguan itu muncul. Aku tidak tahu jawabannya,
aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya.
“Penjaga pohon
keramat akan melakukan tugasnya dengan baik,” kataku, tanpa nada yang mantap.
“Tentu orang itu
mengatur agar satu orang dengan orang lainnya tidak datang secara bersamaan,”
angguk nenek.
Aku membenahi posisi
dudukku. Meletakkan batang kangkung yang tengah kupetiki. Fokus pada obrolan.
“Apa itu
artinya....” aku menelan ludah. Tidak berani melanjutkan karena omonganku bisa
menjadi penistaan.
Jawabannya mendadak
muncul. Tentunya ada alasan lain kepala dusun tidak menyerahkan jabatannya
kepada orang lain.
“Aku tahu apa yang
kau pikirkan. Kau sudah bijak dengan tidak menyerukan pemikiranmu itu,” tawa
nenek seolah mampu membaca pikiranku, seolah nenek adalah seorang dukun saja.
“Pohon pengintai....”
bisikku lambat-lambat.
Nenek mengangguk.
“Kurasa sekarang sudah saatnya bagiku untuk memberikan alasannya padamu. Bukan
karena kamu bertanya untuk menghakimi, tapi aku memberikannya ketika aku merasa
kau sudah siap. Ketika kau bertanya untuk memahami.”
“Kurasa selama ini
aku tidak menggunakan telingaku dengan baik,” sahutku, malu.
“Kau lebih jago
menggunakan mulutmu,” jawab nenek tanpa tedeng aling-aling. Mengalir begitu
saja dari mulutnya.
Nenek yang
misterius, lemah dan sering kali menghabiskan waktunya untuk merajut, kini
berubah menjadi sosok kharismatik di hadapanku.
Sosok yang memiliki
pemikiran luas dan mendalam, bagaikan samudera.
Dia tidak mengajakku
berenang ke sana, sebelum aku menjadi perenang yang baik. Selama ini dia
menghalangiku karena kemampuanku belum baik, tapi hari ini nenek sudah mulai
percaya padaku.
Rasa bangga
membuncah dari dalam diriku. Nenek mempercayaiku, cucunya.
“Pohon keramat itu
tidak ada. Setidaknya ketika aku anak-anak. Pohon itu menjadi buah bibir di
antara warga dusun ketika aku menginjak remaja. Umurku baru dua belas ketika
menikah dengan kakekmu. Saat itulah pohon itu menjadi keramat,” tutur nenek.
“Menjadi keramat,”
ulangku dalam bisikkan.
“Orang tuaku tidak
ada yang pergi ke sana, karena menurut mereka pohon tersebut biasa-biasa saja.
Aku juga tahu sejarah sehingga tidak mudah terseret arus.
“Jadi mengapa pohon
itu bisa sangat dipuja sedemikian rupa?”
“Konstruksi yang
dilatarbelakangi oleh kekuasaan. Kau tahu mengapa pemimpin kita sangat langgeng
kekuasaannya?” tanya nenek, beliau tengah memberikan lampu dalam ruangan
pikiranku yang selama ini gelap.
“Karena ia
mengetahui segalanya berkat pohon itu,” jawabku, mulai bisa menyeimbangkan pemikiran
dengan nenek.
Tapi tetap saja ada
yang mengganjal dalam pikiranku. “Orang-orang mempercayainya. Lebih banyak yang
setuju daripada tidak. Sudah menjadi kebenaran bahwa pohon itu keramat.”
“Meski kau tahu
salah, apa kau akan tetap menyetujuinya sebagai kebenaran?”
“Mereka tidak suka
jika ada orang yang tidak berbisik pada pohon itu. Orang-orang membicarakan
nenek dari belakang,” kataku.
“Tentu saja
orang-orang itu bergosip di belakang. Kalau sudah berani menyatakan langsung,
posisi mereka tidak akan di belakang,” tawa nenek.
“Biarpun aku setuju
dengan nenek. Aku tetap akan ke sana karena aku takut orang-orang tidak
benar-benar menerimaku, aku tidak suka ada gosip,” ujarku.
“Oh, aku memang
tidak memintamu buat setuju seratus persen denganku. Hidupmu, pilihanmu. Hanya
saja aku yakin kau akan memilih hal-hal yang akan diucapkan ketika sudah
berhadapan dengan pohon itu,” tegas nenek.
“Tentu, aku akan
berhati-hati,” gumamku. Di satu sisi aku ingin datang ke pohon itu, di sisi
lain aku ingin menghindarinya.
“Karena kau sudah
tahu kalau rahasiamu tidak aman di sana,” angguk nenek.
Aku memandangi
daun-daun kangkung yang sudah kupetik. “Lalu di manakah kita harus meletakkan
rahasia agar aman?”
“Di kepalamu
sendiri,” jawab nenek, cepat.
“Tapi sangat berat
untuk menyimpan semuanya seorang diri,” sergahku. “Sudah kukatakan, rahasia
terlalu menyesakkan untuk disimpan sendiri.”
“Kau bisa menemukan
orang yang dapat kau percaya. Orang yang bisa menjaga rahasiamu. Hanya saja
bila orang menjaga rahasiamu, kau juga harus menjaga rahasianya sebagai
pengikat,” nasehat nenek.
“Kurasa akan sulit.”
“Benar-benar sulit,”
tandas nenek. “Kau harus mencari orang yang dapat memahamimu, demikian pula kau
mengenalnya dengan baik. Ini bukan perkara mudah.”
“Bagaimana kalau aku
berbisik pada pohon lain saja? Bukankah kita sampai pada suatu persetujuan
bahwa pohon manapun hanya diam saja ketika kita bicara padanya?” usulku.
“Lalu mengapa harus
ke pohon? Sama saja bicara pada kangkung, pada mangkok, pada lampu. Mereka
tetap diam, tidak memberi jalan keluar apa pun. Kemudian apa bedanya dengan
menjaga pikiranmu tetap berada di kepala?”
“Karena aku berharap
dapat mengutarakannya.”
“Kau ingin mulutmu
bicara tapi tidak ada telinga yang mendengar. Tidak ada solusi untuk
permasalahanmu setelah mulutmu bicara.” Nenek menyentuh tanganku.
“Intinya, jika tidak
ingin diketahui orang lain, simpan untuk dirimu sendiri.”
“Apakah itu yang
selama ini nenek lakukan?”
Nenek menggeleng.
“Tidak. Aku tidak menyimpan semua rahasiaku, buktinya hari ini aku membuka
mulutku padamu karena aku selalu merasa berdialog lebih menyenangkan daripada
bercerita pada pohon. Mirip orang sakit jiwa!”
Aku tersenyum masam.
Aku sakit jiwa. Orang-orang di dusunku sakit jiwa. Mungkin yang waras hanya
nenek dengan golongannya juga si kepala dusun itu sendiri yang melakukan
konstruksi akan pohon keramat.
Kepala dusun yang
maha kuasa, membentuk sebuah kebenaran untuk kepentingannya. Tapi bukankah
kebanyakan pemegang kekuasaan memang demikian?
Peraturan di buat
untuk melanggengkan kekuasaan, berlandaskan kepentingan mereka, bukan karena
warganya.
Sementara warga,
menganggap kebenaran itu sebagai sesuai yang luhur. Bebas nilai dan hanya
berisi kebaikan semata.
Membutakan.
Menulikan. Membuat pemikiran menjadi tumpul. Tidak ubahnya denganku yang lebih
memilih mengikuti arus daripada melawannya.
“Nenek kau sungguh
berani, kau orang yang hebat,” sahutku.
“Kau juga pemberani,
aku sedang menyirami bibit keberanian itu dari dalam dirimu,” ujarnya sembari
mengusap-usap telapak tanganku.
Aku tertawa.
“Bagaimana kau melakukannya?”
“Dengan membuatmu
berpikir. Setelah kau memiliki pijakan yang kuat, kau akan lebih berani karena
kau bisa menjawab pertanyaan yang bertujuan buat menyerangmu.”
“Apa maksudmu aku
sebagai anak muda harus mengadakan revolusi?” tanyaku, ragu.
“Lakukan bila kau
memang memiliki dorongan dari dalam dirimu. Bukan karena aku. Saat itulah kau
siap. Hanya saja sebenarnya tidak bersedia mengikuti arus sudah merupakan
resistensi. Wacana revolusi tentunya akan lebih butuh perjuangan.”
Aku mengangguk,
pilihanku sudah berubah. “Aku tidak akan datang ke pohon keramat hanya karena
takut dipergunjingkan orang-orang. Aku tidak akan ke sana karena aku tahu itu bukanlah
hal yang bijak.”
“Tepat!” seru nenek
sembari memberikan kedua jempolnya padaku.
“Jadi apa yang harus
kulakukan untuk memulainya?” Kuharap nenek dapat memberiku lebih banyak
petunjuk.
“Sekarang? Kau harus
menyelesaikan kangkungmu itu kemudian memasaknya. Aku sudah mulai lapar…”
“… Kau juga akan
butuh banyak tenaga jika ingin melakukan resistensi. Menghadapi orang-orang
yang tidak mau diajak berpikir, hanya menerima kebenaran tanpa
mempertanyakannya, itu melelahkan.”
Tamat
Komentar
Posting Komentar